<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Komunik@ta</title>
	<atom:link href="http://komunikata.net/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://komunikata.net</link>
	<description>(Your Communications Partner)</description>
	<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 05:46:00 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Inspirasi Seorang Pengarang</title>
		<link>http://komunikata.net/?p=213</link>
		<comments>http://komunikata.net/?p=213#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 09:28:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yons Achmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kiat Kepenulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunikata.net/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[“Al-Quran adalah inspirasi terbesar saya” begitu kata Habiburahman El-Sirazy, pengarang novel Ayat-Ayat Cinta dalam sebuah wawancara di sebuah situs Islam. Pengakuan itu nampak dalam karya-karyanya, di sana taburan ayat-ayat Tuhan memang mengalir deras disepanjang jalan cerita baik secara tersurat maupun dalam simbol-simbol yang sangat bermakna. Kita bisa terhanyut dalam lautan citaNya ketika membaca karya-karyanya. Kang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Al-Quran adalah inspirasi terbesar saya” begitu kata Habiburahman El-Sirazy, pengarang novel Ayat-Ayat Cinta dalam sebuah wawancara di sebuah situs Islam. Pengakuan itu nampak dalam karya-karyanya, di sana taburan ayat-ayat Tuhan memang mengalir deras disepanjang jalan cerita baik secara tersurat maupun dalam simbol-simbol yang sangat bermakna. Kita bisa terhanyut dalam lautan citaNya ketika membaca karya-karyanya. Kang Abik, begitu panggilan akrabnya, berhasil mengetengahkan ruh dan spirit kitab suci dalam karya yang dibuatnya.<br />
<span id="more-213"></span><br />
Bagi saya, memang begitulah seharusnya. Seorang pengarang muslim, tentu tepat ketika mengambil jalan mengejawantahkan ajaran Tuhan melalui media tulisan, media sastra. Dengan media sastra, menempatkan diri sebagai sosok yang menemukan medan kepahlawannya. Pengarang menulis, berkarya, memberikan pandangan terhadap kehidupan melalui sosok-sosok dalam sebuah cerita. Kemudian, pembaca dibuat larut bersama ayat-ayatNya. Kang Abik berhasil melakukan itu.</p>
<p>Kalau kita cermati karya-karyanya, memang begitu kental nuansa religiusitasnya. Karyanya, sangat pas ketika ditempatkan sebagai novel-novel pembangun jiwa. Misalnya, dalam novel “Ayat-Ayat Cinta”. Kita “dipaksa” untuk larut bersama cerita yang di sana terdedahkan pesan-pesan religius, melalui dialog, narasi maupun syair-syair yang ada. Begitu juga dalam novel “Pudarnya Pesona Cleopatra”. Di sana, Kang Abik berbicara tentang esensi seorang lelaki mencintai seorang wanita di mana kecantikan bukanlah segalanya.</p>
<p>Di dalam Islam, tentu saja ajaran itu ada. Tapi, Kang Abik tidak menempuh jalan berkotbah dengan ajaran yang kaku, tapi mengemasnya dalam cerita yang indah, mengharukan dan bisa memberikan perenungan kepada pembaca bahwa memang itulah yang seharusnya. Lelaki mencinta karena agamanya, itu hal yang utama. Lain lagi ketika kita membaca “Diatas Sajadah Cinta”, Kang Abik berhasil mengemas cerita klasik keberagamaan orang orang dulu yang dibalut dengan bahasa yang halus, dan terkonteks serta mempunyai relevansi dijaman sekarang sehingga cerita itu begitu dekat dengan kita. “Diatas Sajadah Cinta” adalah kisah-kisah hikmah syarat nilai yang perlu kita baca untuk mengisi kekosongan ruhiyah kita.</p>
<p>Dari sini, sebenarnya saya hanya ingin mengatakan bahwa inspirasi seorang pengarang sangat terkait erat atas karya yang dibuatnya. Ia semacam kerangka yang bisa membuat hitam putih karyanya. Karena inspirasi terbesar Kang Abik adalah Alqur’an, maka wajar ketika karya-karyanya selalu terkait dengan pendedahan nilai-nilai dalam Alqur’an itu sendiri. Beliau melakukan penghadiran nilai-nilai religiusitas dalam sebuah karya sastra. Sebuah penghadiran bersama antara nilai-nilai transendensi yang kemudian terpoleskan estetika sehingga karya akan syarat nilai namun tidak kaku.</p>
<p>Lantas, bagaimana dengan Anda, dan saya tentunya terkait dengan inspirasi tadi. Mungkin kita juga seringkali mendapatkan inspirasi dari berbagai peritiwa di sekitar kita, dari buku-buku, internet dsb. Semuanya itu tak menjadi soal, yang penting menurut saya, adalah penghadiran nilai itu sendiri. Berangkat dari nilai-nilai transendensikah, nilai-nilai Ketuhanan, atau berangkat dari nilai-nilai di luar itu yang seringkali berseberangan, misalnya nilai-nilai kebebasan liar atau sekularisme modern yang kini tumbuh subur. Kita tinggal memilih saja dengan kapasitas diri kita.</p>
<p>Inspirasi ada dimana-mana.<br />
Tinggal kita petik salah satunya dan kita kemas dalam sebuah karya.<br />
Setelahnya, kita berikan nilai di dalamnya, itu saja.<br />
Sederhana, tapi butuh kerja keras dan ketekunan merangkai kata</p>
<p>*Yons Achmad. Penulis, Publisis, Penikmat Sastra &amp; Pengelola<a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;70d86b7d37efde2e7f2f32de7e7b4b75&quot;, event)" rel="nofollow" href="../" target="_blank"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunikata.net/?feed=rss2&amp;p=213</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Efektif Membaca ala TONI BUZAN</title>
		<link>http://komunikata.net/?p=209</link>
		<comments>http://komunikata.net/?p=209#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 07:37:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yons Achmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kiat Kepenulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunikata.net/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[1). Pengenalan, ketika kita membaca buku, kita akan mengenali lebih dahulu simbol-simbol yang ada di sebuah buku. Simbol berbentuk abjad, ikon, atau gambar. Pengenalan yang cermat atas simbol-silbol buu akan membuat kita lebih nyaman dan cepat dalam membaca buku.

2). Peleburan. Setelah mengenal, kita mulai masuk ke proses penyesuaian atau asimilasi. Kita dibantu oleh mata kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1). Pengenalan, ketika kita membaca buku, kita akan mengenali lebih dahulu simbol-simbol yang ada di sebuah buku. Simbol berbentuk abjad, ikon, atau gambar. Pengenalan yang cermat atas simbol-silbol buu akan membuat kita lebih nyaman dan cepat dalam membaca buku.<br />
<span id="more-209"></span><br />
2). Peleburan. Setelah mengenal, kita mulai masuk ke proses penyesuaian atau asimilasi. Kita dibantu oleh mata kita yang menatap simbol, kemudian syaraf-syaraf mengirim makna simbol kepada pusat berpikir kita, dan seterusnya. Di sini terjadi semacam tarik ulur, jual beli antara apa yang disampaikan oleh buku dan apa yang kita miliki. Di sini kegiatan membaca byuku memerlukan aspek fisiknya.</p>
<p>3). Intra-intergarasi. Setelah mengenal dan menyesuaikan diri dengan apa yang kita baca, kita pun melakukan proses menghubung-hubungkan antara materi yang satu dengan materi yang lain. Antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain, hingga antara bab yang satu dengan bab yang lain. Kita mencoba memadukan semua hal yang disampaikan buku dengan sisi-sisi pengalaman yang sudah kita miliki begitu lama. Apakah ada yang bersinggungan? Atau tidak? Samakan persepsi.</p>
<p>4). Ekstra-intergrasi. Setelah sampai pada taraf mencari sesuatu yang relevan dengan diri kita atau yang bersinggungan dengan pengalaman kita, kemudian sampailah kita pada pengambilan keputusan. Kita melakukan analisis, apresiasi, seleksi, kritik, dan juga apakah mau menerima atau menolak berkaitan dengan apa yang disampaikan buku kepada kita.</p>
<p>5). Penyimpanan. Inilah proses yang sangat penting. Kita harus menyimpan hasil yang kita peroleh dari sebuah buku. Kita harus dapat memanfaatkan apa saja yang kita baca untuk pengembangan diri kita. Ingat, proses penyimpanan butuh waktu cukup lama. Tidak bisa instan.</p>
<p>6). Pengingatan. Ini juga proses penting setelah penyimpanan. Kita harus dapat menggunakan apa-apa yang kita baca untuk dikeluarkan lagi suatu saat. Misalnya untuk keperluan ujian. Tahap keenam ini sangat penting.</p>
<p>7). Pengomunikasian. Membaca buku adalah salah satu bentuk komunikasi. Baik itu berupa komunikasi interpersonal (dengan diri sendiri) maupun komunikasi interpersonal (antarpribadi), yaitu dengan para tokoh yang disebut oleh buku yang kita baca. Tahap terakhir dalam proses membaca ini menyiratkan arti bahwa membaca buku dapat juga berarti mendengar-aktif suara-suara yang masuk ke dalam diri kita. Dan, pada suatu saat, apa yang masuk ke dalam diri kita itu kita sampaikan kepada orang lain.</p>
<p>(disarikan oleh Ali Muakhir  dari Quantum Reading; editor Hernowo: Penerbit MLC)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunikata.net/?feed=rss2&amp;p=209</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bekerja Sebagai Mediapreneur</title>
		<link>http://komunikata.net/?p=204</link>
		<comments>http://komunikata.net/?p=204#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 07:51:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yons Achmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunikata.net/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Saya baca Kompas edisi 13 Oktober 2009, ada berita menarik. Pekerjaan di bidang media menjadi favorit para lulusan perguruan tinggi. Bidang media menempati urutan pertama, menyusul bidang perbankan dan bidang industri spesifik (mining dan manufactur). Entahlah atas dasar apa mereka menyukai pekerjaan di bidang media, barangkali dunia ini memang menyenangkan ditambah lagi gaji yang lumayan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya baca Kompas edisi 13 Oktober 2009, ada berita menarik. Pekerjaan di bidang media menjadi favorit para lulusan perguruan tinggi. Bidang media menempati urutan pertama, menyusul bidang perbankan dan bidang industri spesifik (mining dan manufactur). Entahlah atas dasar apa mereka menyukai pekerjaan di bidang media, barangkali dunia ini memang menyenangkan ditambah lagi gaji yang lumayan besar. Tapi yang pasti mereka tetap bekerja menjadi karyawan alias bekerja untuk orang lain.<br />
<span id="more-204"></span><br />
Alih-alih ikut kompetisi cari kerja di perusahaan media, sebenarnya ada yang lebih menarik dari semua itu, yaitu menjadi mediapreneur, bekerja sebagai wirausaha di bidang media, mendapatkan duit dan penghasilan lewat media. Yah, saya hanya mengikuti saran para pebisnis kreatif yang selalu memprovokasi untuk berpikir “Out of The Box”. Istilah mediaprenuer ini mungkin masih asing di telinga, saya coba ketik mediaprenuer dimesin pencari google, hasilnya juga sedikit. Akhirnya, saya meraba-raba sendiri. Dalam bayangan saya, bekerja sebagai mediapreneur konkritnya menjadi semacam ini:</p>
<p>1.	Kolumnis media</p>
<p>Pekerjaan ini, pelakunya mendapatkan uang dan penghasilan lewat media. Mereka menjual ide kepada industri media baik media cetak (koran, majalah) maupun media online (situs/blog). Saya menyebut kolumnis disini hanya untuk mewakili saja mereka yang mendapatkang uang dari media. Mereka bisa mendapat uang dari menulis artikel, cerpen, resensi buku dsb.</p>
<p>2.	Konsultan &amp; Profesional  Media</p>
<p>Konsultan media, pelakunya mendapatkan uang dari membantu mereka yang ingin membuat media. Misalnya dalam skala besar, meraka yang sudah senior (mantan petinggi yang pernah bekerja pada media besar) menjadi advisor (penasehat) membantu pengembangan media baik skala nasional maupun lokal. Dalam skala menengah bisa membantu institusi (lembaga) seperti perusahaan, kampus mapun sekolah dengan membuat media internal perusahaan. Biasanya dengan model “One Stop Service” mulai dari peliputan, penulisan, editing, desain dan lay-out sampai cetak.</p>
<p>Ragam konsultasi lainnya, mereka juga mendapatkan finansial misalnya dari training-training media, kepenulisan media dsb. Atau sebagai konsultan media relations (hubungan media), menjadi mitra kerja perusahaan tertentu dalam rangka berhubungan dengan media.</p>
<p>Lebih spesifik lagi, bisa menjadi profesional (praktisi) media, bisa bekerja sebagai publisis, seorang yang ahli dalam bidang publikasi misalnya publisis buku, film, maupun tokoh ternama (artis, politikus dll). Pekerjaan ini, dalam masyarakat kebanyakan barangkali masih nampak asing, belum banyak yang menyentuhnya. Nah, justru ini menjadi peluang besar bagi mereka yang ingin bergelut cari nafkah lewat media. Atau bisa menjadi content web editor, yang bertanggungjawab dalam mengurusi situs media tertentu. Layaknya sebagai profesional, posisi tawar yang ada adalah sebagai mitra orang lain, bukan sebagai buruh media.</p>
<p>3.	Owner (pemilik) media</p>
<p>Mambuat media, jangan terlalu muluk-muluk dulu membuat media besar. Kita bisa mengawalinya dengan yang sederhana, media kecil terlebih dahulu. Saat ini, saya tinggal di daerah Cibubur, disana banyak sekali saya temukan media-media yang disebarkan secara gratis. Sebuah media iklan komunitas, Ada Ad Info, Cibubur dot com, Cibubur Life Style dsb. Begitu juga agak kesana sedikit, saya temui media semisal info Kramat Jati, Info Kalimalang dll. Mereka menjadi media yang mendapatkan finansial dari iklan-iklan yang ditampilkan pada media tersebut. Pemilik media tersebut menggandeng para pengusaha yang berlokasi pada sentra-sentra bisnis di lingkungan tersebut. Nah, kita bisa mengawalinya dengan membuat media semacam ini. Kita menjadi pemilik media yang mendapatkan keuntungan dari produk media yang kita buat.</p>
<p>Terakhir, pada intinya, bekerja sebagai mediapreneur sekali lagi kita bukan menjadi buruh media. Menjadi karyawan pemilik media tertentu. Tapi kita mendapatkan keuntungan finansial dengan memanfaatkan media, mengajari orang membuat media dan pernak-pernak yang bersangkutan dengan media, atau yang lebih oke dan hebat lagi, kita menjadi pemilik media tertentu. Gambaran diatas hanya sebagai pemantik saja, bisa jadi sangat banyak peluang pekerjaan dari media lainya. Satu hal penting, kenapa kita tak mencobanya? (yons achmad)</p>
<p>NB : Untuk konsultasi bidang media bisa kirim e-mail ke redaksi@komunikata.net</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunikata.net/?feed=rss2&amp;p=204</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>(Kiat Menulis 6) Nulis Populer Yuk !</title>
		<link>http://komunikata.net/?p=200</link>
		<comments>http://komunikata.net/?p=200#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 13:13:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yons Achmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kiat Kepenulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunikata.net/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[Di negeri ini banyak orang pandai, tapi hanya sedikit yang mau berbagi ilmu. Saya berharap Anda adalah salah satu orang pandai yang mau berbagi ilmu. Salah satu jalannya adalah dengan menulis karya ilmiah populer. Harapannya, masyarakat luas bisa mendapatkan informasi yang mendidik dari tulisan Anda. Untuk memudahkan Anda menulis karya ilmiah populer, ada beberapa  tips [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di negeri ini banyak orang pandai, tapi hanya sedikit yang mau berbagi ilmu. Saya berharap Anda adalah salah satu orang pandai yang mau berbagi ilmu. Salah satu jalannya adalah dengan menulis karya ilmiah populer. Harapannya, masyarakat luas bisa mendapatkan informasi yang mendidik dari tulisan Anda. Untuk memudahkan Anda menulis karya ilmiah populer, ada beberapa  tips yang bisa membantu Anda;<br />
<span id="more-200"></span><br />
1. Pada dasarnya, karya ilmiah pupuler adalah karangan yang mengandung unsur ilmiah, berdasar fakta, aktualitasnya tidak mengikat. Yang dipentingkan dalam karya ilmiah populer bukan pada keindahan bahasanya, tapi lebih kepada sisi ilmiahnya (mengajarkan atau menerangkan sesuatu). Contoh “Bagaimana merawat wajah”, “Bagaimana beternak itik”, “Bagaimana cara membuat bom” dsb.</p>
<p>2. Jika dalam sebuah kolom, yang ditekankan adalah opini dan pandangan penulisnya, dalam karya ilmiah populer yang lebih ditekankan adalah unsur mendidiknya.  Untuk itu, akan  lebih baik kalau kita  menghidarkan diri dari unsur subjektifitas yang terlalu kental.</p>
<p>3.  Sumber tulisannya bisa kita ambil dari karya-karya ilmiah akademik yang kaku. Alangkah lebih baik jika, hasil penelitian,  paper, skripsi, tesis di sebarkan ke masyarakat luas dengan bahasa yang sederhana, singkat dan jelas dalam bentuk karya ilmiah populer ini. Hal ini akan memudahkan pembaca untuk memahaminya. Agar memudahkan pembaca, Gunakan bahasa yang jelas, tidak terlalu teknis.</p>
<p>4. Karena dalam karya ilmiah populer yang ditekankan adalah sisi ilmiahnya, bukan keindahan bahasanya, Anda bisa menyelipkan  humor yang tidak berlebihan agar  tidak membuat bosan pembaca. Tapi yang perlu ditekankan lagi, jangan lupa unsur mendidiknya. Jangan sampai terjebak juga  kedalam kepenulisan feature yang  menitik beratkan pada unsur menghibur dan human interestnya (sisi kemanusiaan). Kata kuncinya, karya ilmiah populer adalah mendidik pembaca. Penulisnya ibarat seorang guru tapi jangan terlampau menggurui dalam menuliskan karya ilmiah populer Anda.</p>
<p>5. Karena dalam karya ilmiah informasi harus akurat, maka akan lebih baik jika Anda menuliskan sesuatu yang benar-benar Anda kuasai. Jangan sampai Anda mengajarkan sesuatu yang ternyata salah kepada pembaca.  Misal, tulisan “Bagaimana mengindari stress” pembaca tentu akan mempertimbangkannya ketika yang menulis adalah seorang psikolog. Tapi, kalaupun Anda orang biasa saja tapi ingin membuat karya ilmiah populer, rujukan atas buku, pandangan pakar dan literatur harus memadai agar tulisan Anda  tidak salah sehingga merugikan pembaca.</p>
<p>Demikian sedikit catatan dan tips tentang karya ilmiah populer. Semoga bisa sedikit membantu Anda. Selamat menulis. (yons achmad)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunikata.net/?feed=rss2&amp;p=200</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>(Kiat Menulis 5) Writer Block, Jangan Ah!</title>
		<link>http://komunikata.net/?p=198</link>
		<comments>http://komunikata.net/?p=198#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 13:10:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yons Achmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kiat Kepenulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunikata.net/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Jangan Pikirkan apa yang akan Anda tulis, tapi tulislah apa yang ada dalam pikiran Anda&#8221;
(Anis Matta)
Saya akan bercerita sedikit tentang hambatan yang sering dialami oleh seorang penulis, salah satunya adalah apa yang disebut dengan &#8220;Writer Block&#8221;. Dalam dunia kepenulisan, istilah ini sering diartikan sebagai sebuah kondisi dimana seorang penulis mengalami kemandegan dalam berkarya. Saya sering [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">&#8220;Jangan Pikirkan apa yang akan Anda tulis, tapi tulislah apa yang ada dalam pikiran Anda&#8221;<br />
(Anis Matta)</p>
<p>Saya akan bercerita sedikit tentang hambatan yang sering dialami oleh seorang penulis, salah satunya adalah apa yang disebut dengan &#8220;Writer Block&#8221;. Dalam dunia kepenulisan, istilah ini sering diartikan sebagai sebuah kondisi dimana seorang penulis mengalami kemandegan dalam berkarya. Saya sering mengalaminya. Saya kadang susah untuk memulai kalimat apa yang tepat untuk mengawali sebuah tulisan. Banyak yang menyarankan bahwa awalan tulisan harus menarik, itu yang kadang menggangu pikiran dan membuat saya susah mencari kalimat yang tepat.<br />
<span id="more-198"></span><br />
Nah, biasanya, saya akan menuliskan sebuah pernyataan penting di awal kalimat. Itulah ide dasar saya, biasanya, keseluruhan tulisan nantinya berpatokaan pada ide awal itu. Ini saya lakukan untuk menghindari pembicaraan yang melebar. Kalau tidak, saya akan mengutip gagasan seseorang (seperti dalam tulisan ini), harapannya, hanya untuk menarik perhatian saja, selebihnya yang paling penting adalah apa gagasan baru dan pengalaman yang bisa disampaikan.</p>
<p>Kemudian, saya juga sering kehabisan ide. Misalnya, ketika saya akan menulis sebuah artikel untuk media massa, ide itu serasa sudah habis. kasusnya begini, untuk artikel di media massa, biasanya berkisar antara 5-7 halaman. Kadang, baru sampai 2-3 halaman saja sudah mandeg, kehabisan ide. Untuk mengatasinya, biasanya saya bagi keseluruhan artikel itu kedalam 2 sub judul. Contoh, saya akan menulis tentang &#8220;Media dan Terorisme&#8221;, judul utama itu dibagi lagi menjadi dua sub judul &#8220;propaganda&#8221; dan &#8220;Hegemoni AS&#8221;. Hal itu akan memudahkan untuk menguraikan permasalahan tentang tema yang akan dikupas.</p>
<p>Sebenarnya, tak masalah menguraikan tulisan tersebut tanpa membaginya ke dalam 2 sub judul, tapi biasanya pembahasan akan melebar kemana-mana dan tidak fokus. Untuk menghindari ketidak fokusan pembahasan, pembagian sub judul itu yang sering saya lakukan . Selain itu, usaha lain yang saya lakukan agar kemandegan tidak menghinggap adalah menyiapkan data yang cukup terkait dengan tema tulisan yang akan diangkat. Untuk sebuah artikel, biasanya saya membaca 2-3 buku ditambah data dari internet atau koran, ini untuk memperkaya karya agar selain memuat hasil analisis, karya juga memaparkan data untuk memperkuat analisis itu.</p>
<p>Faktor lainya yang juga membuat saya mandeg menulis adalah masalah &#8220;Kemalasan&#8221;. Kalau sudah malas, susah sekali untuk bangkit menulis. Semua orang pasti pernah mengalami rasa malas yang begitu hebat. Nah, bagaimana jika disaat menulis beberapa saat, tulisan belum selesai dan rasa malas itu mulai menyerang. Jawabannya adalah (ini pengalaman saya), yakin bahwa tulisan yang akan dibuat itu sangat penting untuk segera diketahui orang lain, jadi kita akan terus bersemangat merampungkan tulisan itu.</p>
<p>Ketika orang lain membaca, akan bertambah wawasannya, syukur-syukur bisa mencerahkan dan merubah tingkah lagu pembacanya menuju perilaku yang lebih baik. Keyakinan ini yang bisa memberikan semangat kepada saya untuk segera merampungkan tulisan. Harapannya sederhana, orang lain yang membaca akan segera mendapatkan manfaat dari karya itu. Artinya, motif terbesarnya adalah berbagi informasi agar bisa bermanfaat untuk mencerahkan orang lain, inilah tugas mulia seorang penulis. Jadi intinya, kemalasan harus kita lawan karena itulah musuh terbesar penulis. Demikian, Selamat berkarya ! (yons achmad)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunikata.net/?feed=rss2&amp;p=198</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>(Kiat Menulis 4) Teknik Menulis Artikel</title>
		<link>http://komunikata.net/?p=193</link>
		<comments>http://komunikata.net/?p=193#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 06:42:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yons Achmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kiat Kepenulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunikata.net/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[~menulislah, apapun,
jangan pernah takut
tulisanmu tidak dibaca orang,
yang penting tulis,
tulis dan tulis.
suatu saat pasti berguna~
(Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca)

Menulis itu ibarat naik motor. Ingin bisa melakukan, jawabannya adalah dengan mencoba. Tahu teori bagaimana cara yang benar mengendarai motor saja tak cukup. Mereka harus berlatih dan coba menaikinya. Semakin sering berlatih-walau kadang sempat terjatuh dan luka- kelak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>~menulislah, apapun,<br />
jangan pernah takut<br />
tulisanmu tidak dibaca orang,<br />
yang penting tulis,<br />
tulis dan tulis.<br />
suatu saat pasti berguna~</p>
<p>(Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca)<br />
<span id="more-193"></span><br />
Menulis itu ibarat naik motor. Ingin bisa melakukan, jawabannya adalah dengan mencoba. Tahu teori bagaimana cara yang benar mengendarai motor saja tak cukup. Mereka harus berlatih dan coba menaikinya. Semakin sering berlatih-walau kadang sempat terjatuh dan luka- kelak mereka pasti semakin mahir dan lancar. Dalam persoalan menulis juga begitu.. Banyak mendapatkan teori bagaimana menulis yang baik dan benar-entah dari buku, sekolah, kuliah maupun berbagai pelatihan kepenulisan-saja tidaklah cukup. Mereka yang berniat terjun untuk menulis dan benar-benar ingin serius menjadi penulis profesional, tidak ada cara yang lebih jitu selain mencoba dan terus mencoba.</p>
<p>Menulis bisa dikatakan sebuah keterampilan. Pada dasarnya, semua orang bisa melakukannya. Arswendo Atmowiloto, penulis sinetron “Keluarga Cemara” yang sempat terkenal itu mengatakan bahwa menulis itu gampang. Benarkah demikian..? Barangkali, ungkapan itu hanya sekedar memotivasi saja agar orang tidak takut duluan menulis. Kenyataannya memang lebih komplek. Sekedar menulis ala kadarnya mungkin gampang. Namun, membuat tulisan yang berbobot, indah, enak dibaca, mempunyai derajat ilmiah, pengetahuan, intelektualitas dan yang pasti bisa dimuat di media nasional maupun internasional perlu sebuah ilmu proses dan praktek yang intens.</p>
<p>Terkait dengan bagaimana menulis artikel, khususnya untuk konsumsi media massa, ada beberapa tahapan standar yang perlu dilalui. Diantaranya;</p>
<p>Tahap Persiapan.</p>
<p>1. Cinta Membaca.</p>
<p>Membaca tidak sekedar membaca layaknya orang “awam” yang melakukannya demi hobi semata dan boleh dilakukan dengan iseng, tanpa ada target dan tujuan khusus . Tapi, serius membaca untuk menyelami pemikiran-pemikiran baru. Yang sering dibutuhkan saat menulis artikel biasanya adalah pandangan dan pemikiran orang dalam sebuah buku, artikel atau makalah karya ilmiah. Ide-ide dan pemikiran tokoh inilah yang kelak dibutuhkan untuk memperkaya khasanah artikel yang nanti akan ditulis.</p>
<p>Setelah membaca, langkah bijaknya adalah mencatat ide dan pemikiran tokoh tersebut agar tidak lupa, seperti kata pepatah “The palest ink is better than the best memory” (tinta yang kabur sekalipun akan lebih baik daripada memori yang tajam). Dalam menulis artikel, ide dan pemikiran tokoh orang lain memang bukan yang utama. Sifatnya hanyalah mendukung argumentasi kita. Nah, mau tak mau kecintaan membaca ini senantiasa menjadi sebuah kebiasaan yang perlu selalu dipupuk dan dilakukan dengan rutin layaknya orang makan sehari tiga kali.</p>
<p>2. Rajin Mengkliping.</p>
<p>Kliping ini bisa berupa kumpulan artikel, berupa kutipan pemikiran tokoh yang dimuat dalam media massa, maupun (ini yang terpenting), penelitian-penelitian ilmiah tentang berbagai hal terutama pada minat dan tema tulisan yang akan kita garap. Kegiatan mengkliping ini untuk menghindarkan diri seorang penulis dari kebuntuan (writer block) dan kehabisan bahan mentah untuk mendukung argumentasi.</p>
<p>3. Membaca Rubrik Opini.</p>
<p>Rubrik opini adalah ladang untuk menampung tulisan para penulis lepas (termasuk penulis artikel). Seorang penulis artikel harus memahami betul ladang tersebut. Masing-masing ladang mempunyai kharakteristik tersendiri. Seorang penulis artikel, perlu membiasakan diri membaca opini-opini yang berisi artikel di berbagai media. Hal ini tujuannya jelas, untuk semakin mengetahui tema-tema atau gaya tulisan seperti apa yang sering dimuat dalam media tersebut. Sehingga bisa memudahkan penulis untuk memutuskan artikel yang telah dibuat akan dikirim ke media mana. Dengan mengetahui persis kondisi kharakteristik ladang masing-masing media, dengan begitu harapan artikel kita muncul lebih besar.</p>
<p>Untuk membaca dan mempelajari opini di berbagai media, saat ini penulis tidaklah susah, karena biasanya koran atau media besar mempunyai situs internet yang opininya bisa diakses dengan bebas dan gratis. Jadi dengan bantuan internet kita bisa membaca 10 atau 15 opini sekaligus dalam satu hari.</p>
<p>4. Membaca Tajuk Rencana.</p>
<p>Tajuk rencana dalam sebuah media (cetak), biasanya berada pada halaman yang sama dengan opini. Jika opini ditulis oleh penulis lepas (dari luar redaksi), tajuk rencana ditulis oleh redaktur yang bekerja pada koran atau media tersebut. Membaca tajuk rencana ini, bisa memudahkan penulis untuk mengetahui alur berpikir, pendapat dan visi sebuah media tentang berbagai pemberitaan yang ada. Ketika kita mengirim artikel yang sesuai dengan pandangan, visi dan misi media yang bersangkutan, tentu kesempatan untuk dimuat semakin besar.</p>
<p>5. Mempunyai Buku Sakti.</p>
<p>Ini yang sering dilupakan oleh para penulis. Buku sakti ini penting yang memuat berbagai data, informasi, pemikiran tokoh atau rangkuman buku-buku yang telah dibaca. Dengan adanya buku sakti tersebut, kita bisa menulis dimana dan kapanpun saja hanya dengan berbekal buku tersebut. Tidak hanya melulu menulis di rumah dengan berbagai literatur berserakan. Buku sakti tersebut pada dasarnya untuk membantu dalam soal administrasi dan manajemen karier kepenulisan agar lebih tertata dengan baik. Dengan sebuah manajemen yang baik, keberhasilan karier kepenulisan tentu semakin optimis untuk bisa dicapai.</p>
<p>A. Tahap Penulisan.</p>
<p>Sementara, ada beberapa  teknik menulis artikel diantaranya;</p>
<p>1. Menentukan gagasan utama.</p>
<p>Dalam menulis sebuah artikel, gagasan utama harus sudah melekat dalam otak kita. Misalnya, ketika akan menulis soal kenaikan harga BBM, satu gagasan utama harus ada. Misalnya “Saya tidak sepakat kenaikan BBM karena membuat rakyat tercekik”. Gagasan utama ini yang nantinya akan menuntun penulis untuk memberikan alasan dan argumentasi kenapa hal itu bisa terjadi. Kemudian penulis baru mengalirkan tulisan pada dampak yang ditimbulkan dari kebijakan tersebut, kritik terhadap pemerintah, alternatif kebijakan yang semestinya diambil dst.</p>
<p>2. Membuat judul yang menarik.</p>
<p>Misalnya contoh kasus dugaan penipuan yang menimpa Jarwo Kuat (JK) wapres dalam acara televisi republik mimpi. Dalam artikel di Harian Kompas, Indra Jaya Piliang, seorang penulis artikel yang cukup produktif memberikan judul menarik “Matinya Mimpi Republik. Judul ini, selain provokatif (mengundang pertanyaan) juga kental dengan nuansa sastranya. Judul seperti ini diharapkan bisa menarik perhatian redaktur dan pembaca sekaligus.</p>
<p>3. Memfokuskan maksud gagasan.</p>
<p>Jebakan penulis artikel biasanya menulis ngalor ngidul (kemana-mana) padahal ruang artikel dalam media terbatas . Hal ini hanya akan membuat ruwet tulisan karena tidak jelas kemana arahnya, kemana juntrungnya. Memfokuskan pada maksud gagasan diperlukan. Dalam arti, hanya memfokuskan diri untuk membahas tema utama yang sedang diangkat, bukan malah membumbui banyak basa basi yang tidak konteks. Hal-hal yang barangkali penting tetapi tidak ngonteks dengan tema yang sedang dibahas sebaiknya juga dikesampingkan agar tidak melenceng dari tujuan awal menulis. Strategi ini untuk menghindarkan diri penulis agar tidak pecah konsentrasi, tidak membahas tema yang sebelumnya direncanakan, tetapi malah menulis tema yang lain.</p>
<p>4. Memilih model P-D-K atau P-S-P.</p>
<p><span> Dalam menulis artikel ada konsep P-D-K (Pendirian-Dukungan-Kesimp</span></p>
<div><span>ulan) atau P-S-P (Pendapat-Sanggahan-Pendir</span>ian). Konsep tersebut untuk mempermudah dalam menentukan model artikel seperti apa yang akan kita tulis. Untuk memberikan dukungan atau sanggahan, bahannya dari pemikiran atau penelitian yang telah kita siapkan sebelumnya. Dengan modal tersebut argumentasi kita akan lebih meyakinkan, berbobot dan bisa diterima baik oleh khalayak pembaca.</p>
<p>5. Menjelaskan benang merahnya.</p>
<p>Kesulitan terbesar yang dihadapi penulis dalam menulis artikel adalah menarik benang merah atas sebuah persoalan. Benang merah ini sebenarnya bukan persoalan dalam keterampilan menulis, tetapi lebih didasarkan pada kapasitas pemikiran kita. Untuk bisa menarik benang merah, resep yang cukup cespleng tak lain tak bukan adalah meramu dua unsur sekaligus. Yaitu referensi dan ketajaman analisis. Hasil ramuan kedua hal ini yang kemudian bisa melahirkan benang merah pemikiran kritis. Dan, tanda-tanda keberhasilannya adalah pembaca akan manggut-manggut mengiyakan setelah membaca tulisan kita.</p>
<p>6. Menentukan sikap penulis.</p>
<p>Dalam kehidupan keseharian, sikap bijak pasti diperlukan. Ketika menulis, sikap normatif ini kadang menjebak kita. Alih-alih ingin bijak, hasilnya malah muncul kesan sok bijak. Maka, sikap tegas penulis perlu diketengahkan. Sehingga akan tampak jelas pembelaannya. Kelihatan jelas sikapnya, pro atau kontra dalam membahas masalah yang ditulisnya. Dengan menggunakan teknik ini kelak khalayak akan tahu dan memberikan identitas dan kekhasan tersendiri kepada penulis tersebut.</p>
<p>7. Menghindari istilah rumit.</p>
<p>Walaupun banyak penulis punya penguasaan spesifik bidang tertentu (misalnya seorang dokter atau psikolog), tapi terlampau menuliskan istilah-istilah yang rumit bagi publik tentu tak bijak. Penulis artikel sebaiknya tidak membebani pembaca dengan istilah-istilah yang asing dan rumit. Alternatifnya adalah mengganti istilah dengan bahasa-bahasa yang umum. Misal abrasi diganti pengikisan, atau signifikan bisa diganti dengan berpengaruh besar, urgen diganti dengan penting. Dengan begitu, pembaca akan lebih nyaman dan lebih mudah memahami maksud tulisan kita.</p>
<p>8. Menentukan sasaran tembak.</p>
<p>Sasaran tembak ini juga perlu dilakukan agar artikel tidak melulu lembut tapi bisa geram. Menyebut nama dan mengatakan pemikirannya salah itu sah-sah saja asalkan dibangun dengan argumentasi yang memadai. Teknik sasaran tembak ini juga bisa digunakan untuk menanggapi tulisan orang. Biasanya, ketika kita menanggapi tulisan orang di media massa, gayung bersambut akan muncul. Teknik ini, selain sebagai strategi kita untuk siap beradu argumentasi (melatih perang pemikiran), juga bisa merangsang dan memaksa kita untuk terus menulis sebelum wacana pro-kontra berakhir.</p>
<p>9. Mempertanyakan atau menggugah.</p>
<p>Penutup artikel perlu mendapat sentuhan agar muncul kesan dari pembaca. Tekniknya bisa dengan mempertanyakan sesuatu atau menulis kata-kata yang menggugah. Prinsipnya, pertanyaan atau penulis kata-kata menggugah tersebut bisa memberikan kesan mendalam kepada pembaca. Misalnya “Akankah Hakim berani memutuskan Soeharto bersalah? (contoh pertanyaan yang berusaha memberikan sentilan). Atau, “Semoga masa depan sepakbola kita bisa maju tanpa kekerasan” (Kesan memberikan rasa optimis dan harapan menggugah).</p>
<p>10. Editing.</p>
<p>Inilah tahap akhir kepenulisan artikel. Evaluasi dan koreksi ini proses standar yang mesti dilakukan ketika seseorang telah berhasil membuat sebuah tulisan. Jangan coba-coba mengirimkan tulisan sebelum diedit. Editing terutama diarahkan pada apakah logika berpikir yang dibangun sudah benar atau bisa juga memperbaiki aliran gagasan dengan memperjelas kalimat agar mudah dipahami pembaca. Editing juga mencakup soal EYD dan mempercantik gaya tulisan agar indah, gurih dan enak dibaca.</p>
<p>B. Tahap Pengiriman.</p>
<p>1. Menggunakan e-mail.</p>
<p>Saat ini eranya internet, sudah bukan jamannya lagi mengirim artikel via pos (karena mahal dan lama sampainya). Tata caranya, sebaiknya naskah artikel dikirim lewat fasilitas sisipan (atachment) untuk menghindari berubah (rusaknya) file. Satu naskah sebaiknya dikirim ke satu media, jika dalam jangka waktu dua minggu tidak ada kabar dimuatnya, boleh dikirim ke media lain. Untuk memastikan sekaligus mendokumentasikan artikel, sebaiknya tembusan artikel juga kita kirim ke e-mail kita.</p>
<p>2. Menyertakan kata pengantar.</p>
<p>Kata pengantar ini diperlukan untuk mempermudah redaktur mengetahui isi naskah kita. Isinya, sedikit basa-basa kepada penerbit (salam, kabar baik), kemudian penjelasan singkat mengapa karya ini penting untuk diketahui publik dan yang terakhir adalah permohonan kesediaan redaktur untuk bisa memuatnya dalam koran atau majalah yang dikelolanya. Dengan adanya kata pengantar ini diharapkan akan membantu mempermudah redaktur menginventarisir naskah dan mengetahui garis besar isi artikel yang dikirimkanya.</p>
<p>3. Menyertakan biodata.</p>
<p>Sebaiknya untuk biodata dibagi menjadi dua bentuk. Bentuk pertama biodata panjang yang menyatakan tempat lahir, latarbelakang pendidikan, prestasi atau hasil karya yang telah dihasilkan. Data ini diperlukan untuk membangun citra personal sebagai seorang ahli yang karyanya memang layak untuk dimuat. Biodata kedua adalah biodata singkat sebagai identitas artikel, misalnya; Ade Armando, Dosen UI dan Pengamat Media.</p>
<p>4. Menyertakan nomor rekening.</p>
<p>Penyertaan nomor rekening ini penting untuk memudahkan administrasi pengiriman honor jika artikel dimuat. Pembayarannya, biasanya rata-rata satu minggu setelah artikel dimuat. Tapi, kalau memang sedang butuh uang, segera menelpon pihak “Manajemen Honor” pada sebuah perusahaan media boleh-boleh saja.(yons achmad).</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunikata.net/?feed=rss2&amp;p=193</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>(Kiat Menulis 3) Teknik Penulisan Puisi</title>
		<link>http://komunikata.net/?p=189</link>
		<comments>http://komunikata.net/?p=189#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 06:39:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yons Achmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kiat Kepenulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunikata.net/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[~puisi adalah sebuah dunia dalam kata~
(Dresden)
Menulis puisi itu gampang. Ya, memang begitu. Banyak orang yang bisa membuat puisi. Siapapun, ketika disuruh atau dipaksa membuat puisi pasti bisa. Berbeda ketika orang disuruh untuk membuat cerpen atau novel. Namun, jangan salah, orang yang membuat puisi tanpa pengetahuan, tanpa teknik, tentu akan sangat berbeda dengan mereka yang sedikit-sedikit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>~puisi adalah sebuah dunia dalam kata~</p>
<p>(Dresden)</p>
<p>Menulis puisi itu gampang. Ya, memang begitu. Banyak orang yang bisa membuat puisi. Siapapun, ketika disuruh atau dipaksa membuat puisi pasti bisa. Berbeda ketika orang disuruh untuk membuat cerpen atau novel. Namun, jangan salah, orang yang membuat puisi tanpa pengetahuan, tanpa teknik, tentu akan sangat berbeda dengan mereka yang sedikit-sedikit memahami “hakikat” sebuah puisi.<br />
<span id="more-189"></span><br />
Pengertian Puisi.</p>
<p>Puisi adalah sebuah dunia dalam kata. Isi yang terkandung di dalam puisi merupakan cerminan pengalaman, pengetahuan, dan perasaan penyair yang membentuk sebuah dunia bernama puisi. Kesusastraan, khususnya puisi, adalah cabang seni yang paling sulit untuk dihayati secara langsung sebagai totalitas. Elemen-elemen seni ini ialah kata. Sebuah kata adalah suatu unit totalitas utuh yang kuat berdiri sendiri. Puisi menjadi totalitas-totalitas baru dalam pembentukan-pembentukan baru, dalam kalimat-kalimat yang telah mempunyai suatu urutan yang logis. (Dresden).</p>
<p>Puisi adalah pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspek-aspek bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individu dan sosialnya; yang diungkapkan dengan teknik tertentu sehingga puisi itu dapat membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengarnya.(Suyuti).</p>
<p>(Pengertian diatas disarikan oleh Hasta Indrayana aktivis Komunitas  Tanda Baca).<br />
Sedangkan, unsur-unsur puisi menurut Dick Hartoko sebagai berikut;</p>
<p>Puisi terdiri dari dua unsur, yaitu unsur tematik atau unsur semantik puisi dan unsur sintaksis puisi. Unsur tematik atau unsur semantik puisi menuju ke arah struktur batin sedangkan unsur sintaksis mengarah pada struktur fisik puisi. Struktur batin adalah makna yang terkandung dalam puisi yang tidak secara langsung dapat dihayati. Struktur batin terdiri dari (1) tema, (2) perasaan, (3) nada dan suasana, (4) amanat atau pesan. Struktur fisik adalah struktur yang bisa kita lihat melalui bahasanya yang tampak. Struktur fisik terdiri dari (1) diksi, (2) pengimajian, (3) kata konkret, (4) bahasa figuratif atau majas, (5) versifikasi, dan (6) tata wajah.</p>
<p>Dalam sebuah forum diskusi maya (apresiasi sastra), penyair Hasan Aspahani pernah menyarikan perihal pasal-pasal puisi versi Goenawan Mohammad dalam bukunya “Kesusastraan dan Kekuasaan”. Pasal-pasal ini bisa kita jadikan panduan bagaimana menulis puisi dengan baik.</p>
<p>Pasal 1.<br />
Dalam puisi, pada mulanya adalah komunikasi.<br />
Karena itu, puisi yang tidak palsu dengan sendirinya<br />
dan sudah seharusnya mengandung kepercayaan kepada<br />
orang lain, pembacanya.</p>
<p>Pasal 2.<br />
Prestasi kepenyairan yang matang<br />
mencerminkan suatu gaya, setiap gaya mencerminkan<br />
suatu kepribadian, setiap kepribadian tumbuh dan hanya<br />
bisa benar-benar demikian bila ia secara wajar berada<br />
dalam komunikasi.</p>
<p>Pasal 3.<br />
Sajak yang mencekoki pembaca, atau menyuruh<br />
pembaca menelan saja pesan yang hendak disampaikan<br />
atau yang dititipkan lewat penyair adalah sajak yang<br />
tidak pantas dihargai.</p>
<p>Pasal 4.<br />
Penyair dan pembacanya berada dalam sebuah<br />
ruang kebersamaan yang meminta banyak hal serba<br />
terang, sebab dengan demikian terjamin kejujuran, dan<br />
penyair tidak sekedar menyembunyikan maksud sajaknya<br />
bagi dirinya sendiri.</p>
<p>Pasal 5.<br />
Akrobatik kata-kata untuk dengan sengaja<br />
membikin gelap suatu maksud sajak menunjukkan tidak<br />
adanya kejujuran, yang pada akhirnya tidak lagi<br />
dipercaya pembacanya dan kemudian ia pun tidak lagi<br />
percaya pada dirinya sendiri.</p>
<p>Pasal 6.<br />
Penyair harus meletakkan sajaknya di antara<br />
<span> &#8220;kegelapan-supaya-tidak-di</span></p>
<div>mengerti&#8221; dan<br />
<span> &#8220;tidak-menjejalkan-segala-</span>galanya-kepada-pembaca&#8221;,<br />
tanpa mengaburkan batas antara kedua hal itu.</p>
<p>Dari kenyataan karya beberapa penyair (khususnya para pemula), yang sering muncul adalah puisi dengan ungkapan perasaaan semata. Padahal, sebenarnya dalam puisi juga perlu dimunculkan sisi intelektualitas di dalamnya. Baiklah, dari beberapa pandangan sekilas diatas, semoga bisa dijadikan dasar bagaimana kita bisa menulis puisi dengan baik, tidak asal menulis, tetapi benar-benar dilandasi dengan sebuah ilmu tentang puisi, sehingga akan lahir karya-karya besar, bukan hanya picisan. (yons achmad).</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunikata.net/?feed=rss2&amp;p=189</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>(Kiat Menulis 2) Teknik Menulis Cerpen</title>
		<link>http://komunikata.net/?p=184</link>
		<comments>http://komunikata.net/?p=184#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 06:22:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yons Achmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kiat Kepenulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunikata.net/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[Bagi mereka yang ingin menjadi novelis besar, tak ada salahnya memulai karir dengan menulis cerpen terlebih dahulu. Dalam situs www.write101.com (diterjemahkan oleh Ary), terdapat sebuah teknis sederhana yang bisa dijadikan jalan masuk memahami bagaimana caranya menulis cerpen itu. Jelasnya sebagai berikut;

Ketika mulai menyusun cerpen;
1. Taruh seseorang di atas pohon.
2. Lempari dia dengan batu.
3. Buat dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi mereka yang ingin menjadi novelis besar, tak ada salahnya memulai karir dengan menulis cerpen terlebih dahulu. Dalam situs www.write101.com (diterjemahkan oleh Ary), terdapat sebuah teknis sederhana yang bisa dijadikan jalan masuk memahami bagaimana caranya menulis cerpen itu. Jelasnya sebagai berikut;<br />
<span id="more-184"></span><br />
Ketika mulai menyusun cerpen;</p>
<p>1. Taruh seseorang di atas pohon.<br />
2. Lempari dia dengan batu.<br />
3. Buat dia turun.</p>
<p>Kelihatannya aneh, tapi coba pikirkan baik-baik, karena saran ini bisa diterapkan oleh penulis mana saja. Nah, ikuti langkah-langkah perencanaan seperti yang disarankan di bawah kalau ingin menulis cerpen-cerpen yang hebat.</p>
<p>Perencanaan Cerpen</p>
<p>Taruh seseorang di atas pohon, munculkan sebuah keadaan yang harus dihadapi tokoh utama cerita.</p>
<p>Lempari dia dengan batu. Dari keadaan sebelumnya, kembangkan suatu masalah yang harus diselesaikan si tokoh utama tadi. Contoh, Kesalahpahaman, kesalahan identitas, kesempatan yang hilang, dan sebagainya.</p>
<p>Buat dia turun, Tunjukkan bagaimana tokoh Anda akhirnya mengatasi masalah itu. Pada beberapa cerita, hal terakhir ini seringkali juga sekaligus digunakan sebagai tempat memunculkan pesan yang ingin disampaikan penulis. Contoh, Kekuatan cinta, kebaikan mengalahkan kejahatan, kejujuran adalah kebijakan terbaik, persatuan membawa kekuatan, dsb.</p>
<p>Ketika Anda selesai menulis, selalu (dan selalu) periksa kembali pekerjaan Anda dan perhatikan ejaan, tanda baca dan tata bahasa. Jangan menyia-nyiakan kerja keras Anda dengan menampilkan kesan tidak profesional pada pembaca Anda.</p>
<p>Bagaimana, sudah paham? Teknik tersebut adalah langkah sederhana yang menjadi bekal awal untuk menulis cerpen. Selanjutnya, perlu diperhatikan beberapa teknik berikut;</p>
<p>1. Tema. Dalam sebuah cerpen, tema perlu kita pegang. Tema inilah yang menjadi benang merah ketika seorang cerpenis mulai bekerja. Seperti dalam karya non fiksi dimana ada gagasan utama, dalam cerpen juga begitu, gagasan utamanya tetap harus kuat terasa ketika orang selesai membaca karya cerpen yang dibuat oleh seorang pengarang.</p>
<p>2. Alur. Alur ini perlu dibangun secara lengkap. Dalam arti terbaca jelas bagaimana pembukaan, pemunculan konflik dan pada akhirnya sang pengarang mengakhiri sebuah cerita. Satu hal yang sering terjadi, pengarang terlalu bertele-tele dan berlama-lama dalam pembukaan cerita sehingga bagian konflik dan penyelesainnya malah menggantung. Nah, porsi masing-masing perlu diseimbangkan agar cerita menjadi utuh.</p>
<p>3. Kharakter tokoh. Dalam cerpen, usahakan tokoh tidak terlalu banyak. Justru, yang paling penting adalah bagaimana membuah tokoh rekaan dalam sebuah cerpen tersebut bisa dikenang oleh pembaca.</p>
<p>4. Dialog. Dalam membangun dialog juga berlaku sama. Perlu dibangun kekuatan kata-kata yang keluar dari sang tokoh dalam cerpen. Kata-kata yang menggugah, menginspirasi atau memberikan kesan khas pada sang tokoh yang mengucapkannya.</p>
<p>5. Setting. Tempat kejadian usahakan begitu dekat dengan pembaca. Jika sulit, imajinasikan dan narasikan tempat-tempat itu agar terkesan khas sehingga pembaca akan bisa merasakan seolah-olah tempat itu ada, unik dan menarik.</p>
<p>6. Sepenggal kisah. Dalam cerpen, cukup ceritakan sepenggal kisah saja. Jangan terlampau mendedahkan kisah sang tokoh dalam rentang waktu berhari-hari atau berbulan-bulan. Bahkan, kisah satu jam bahkan 10 menit sang tokoh pun cukup asalkan memang menarik.</p>
<p>Dari kisah nyata menjadi cerpen.</p>
<p>Sebagai tambahan, dibawah ini ada tips menarik bagaimana mengangkat kisah nyata menjadi sebuah cerpen (saya comot dari blognya Jonru, www.jonru.multiply.com).</p>
<p>Emangnya sinetron Islam aja yang dibikin berdasarkan kisah nyata. Cerpen juga bisa kok. Dan sebenarnya, ini bukan &#8220;barang baru&#8221;. Sebab, nyaris semua pengarang pernah menulis cerpen berdasarkan kisah nyata, baik itu pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain atau kejadian tertentu yang dilihat oleh si pengarang.</p>
<p>Lantas, kenapa harus dibahas di topik ini? Apa istimewanya?.</p>
<p>Saya merasa perlu membahasnya, karena baru-baru ini saya membaca dua cerpen dari dua orang teman yang diangkat dari sebuah kisah nyata. Setelah saya baca, terus terang saya kecewa. Sebab cerpen tersebut sama persis dengan cerita aslinya. Isi cerita, alur cerita, semuanya sama. Yang berbeda hanya nama-nama tokoh dan settingnya. Selain itu, cerpennya pun disampaikan dengan gaya yang biasa-biasa saja.</p>
<p>Sebenarnya, dalam mengangkat sebuah kisah nyata ke dalam cerpen, bagaimana teknis menulis yang baik?</p>
<p>Secara umum, tekniknya sama saja dengan teknik penulisan lainnya. Tapi menurut saya, yang perlu diingat adalah: kisah nyata tersebut hanyalah sebuah IDE. Sebagai ide, kita bebas mengembangkannya. Mau kita ubah ceritanya, ditambahi, dikurangi, dan seterusnya, semua terserah kita. Tak ada yang melarang. Toh kisah nyata itu bukan sebuah sejarah, hanya peristiwa sehari-hari yang biasa.</p>
<p>Memang, bukan berarti kita tidak boleh membuat cerpen yang isinya sama persis dengan kisah nyatanya. Ya boleh-boleh saja, dong. Yang saya maksud pada topik ini adalah: Kita jangan sampai berpikir bahwa cerpen yang kita tulis tidak boleh merubah sedikit pun kisah nyatanya. Sebab sekali lagi, kisah nyata tersebut bukan sebuah sejarah. Sekadar berbagi tips, berikut adalah contoh langkah-langkah yang bisa kita lakukan dalam mengubah sebuah kisah nyata menjadi cerpen.</p>
<p>• Carilah bagian dari kisah nyata itu yang kita anggap menarik. Bagian yang kurang menarik, atau tidak menarik sama sekali, lupakan saja.<br />
• Galilah bagian yang menarik tersebut, lalu kembangkan ceritanya sesuai keinginan kita.<br />
• Kalau perlu, carilah sudut pandang yang unik, agar ceritanya menjadi lebih bagus.</p>
<p>Setelah itu, kita bisa langsung menulis cerpennya. Saat menulis ini, kita sudah boleh membuang jauh-jauh si kisah nyata tersebut. Lupakan saja. Toh kita sudah punya modal berupa ke-3 poin di atas.</p>
<p>Yang juga penting, jangan merasa &#8220;terbebani&#8221; oleh hal-hal yang melekat pada kisah nyata tersebut, sebab kita bisa mengubah semuanya sesuka kita. Sebagai contoh, si pelaku pada kisah nyata adalah seorang pria. Ketika diubah jadi cerpen, jenis kelaminnya kita ubah jadi wanita. Atau, kisah nyata ini terjadi di Jakarta, tapi pada cerpennya diubah menjadi New York. Dan seterusnya. Ini semua boleh-boleh saja. Asalkan cerita yang kita buat tetap logis (masuk akal) dan menarik. (yons achmad)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunikata.net/?feed=rss2&amp;p=184</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>(Kiat Menulis 1)Teknik Membuat Resensi Buku</title>
		<link>http://komunikata.net/?p=181</link>
		<comments>http://komunikata.net/?p=181#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 06:17:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yons Achmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kiat Kepenulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunikata.net/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Teknik Membuat Resensi Buku
~dan&#8230;kebahagiaan akan berlipat ganda
jika dibagi dengan orang lain~
(Paulo Coelho dalam novel &#8220;Di Tepi Sungai Piedra&#8221;)

Beruntung orang yang suka membaca buku. Mereka yang gemar membaca buku akan terbuka wawasannya, tidak kuper dan cupet pandangan. Mereka akan mendapatkan informasi selain yang dipikirkannya selama ini, begitu juga referensi dan pengetahuannya akan bertambah luas. Inilah sebenarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Teknik Membuat Resensi Buku</p>
<p align="center">~dan&#8230;kebahagiaan akan berlipat ganda<br />
jika dibagi dengan orang lain~</p>
<p align="center">(Paulo Coelho dalam novel &#8220;Di Tepi Sungai Piedra&#8221;)</p>
<p><span id="more-181"></span><br />
Beruntung orang yang suka membaca buku. Mereka yang gemar membaca buku akan terbuka wawasannya, tidak kuper dan cupet pandangan. Mereka akan mendapatkan informasi selain yang dipikirkannya selama ini, begitu juga referensi dan pengetahuannya akan bertambah luas. Inilah sebenarnya investasi berharga sebagai modal untuk mengarungi kehidupannya. Orang yang menyukai aktivitas membaca, biasanya mereka tidak akan terjebak dalam pola berpikir sempit ketika menghadapi problem-problem penting yang terjadi di dunia. Dalam kehidupan nyata juga berpeluang besar punya potensi dan kecenderungan yang bijak dalam mensikapi kejadian-kejadian keseharian di sekitarnya.</p>
<p>Tapi, bagi orang yang ingin berbuat lebih dan mau berbagi ilmu kepada orang lain, membaca saja tak cukup. Mereka perlu memiliki ketrampilan lagi yaitu ketrampilan meresensi buku (berbagi bacaan). Sebelum melangkah kepada teknik ringkas meresensi buku, ada beberapa hal penting mengapa resensi perlu dibuat. Tujuannya, diantaranya sebagai berikut,</p>
<p>1. Membantu pembaca (publik) yang belum berkesempatan membaca buku yang dimaksud (karena buku yang diresensi biasanya buku baru) atau membantu mereka yang memang tidak punya waktu membaca buku sedikitpun. Dengan adanya resensi, pembaca bisa mengetahui gambaran dan penilaian umum terhadap buku tertentu. Setidaknya, dalam level praktis keseharian, bisa dijadikan bahan obrolan yang bermanfaat dari pada menggosip yang tidak jelas juntrungnya.</p>
<p>2. Mengetahui kelemahan dan kelebihan buku yang diresensi. Dengan begitu, pembaca bisa belajar bagaimana semestinya membuat buku yang baik itu. Memang, peresensi bisa saja sangat subjektif dalam menilai buku. Tapi, bagaimanapun juga tetap akan punya manfaat (terutama kalau dipublikasikan di media cetak, karena telah melewati seleksi redaktur). Lewat buku yang diresensi itulah peresensi belajar melakukan kritik dan koreksi terhadap sebuah buku. Disisi lain, seorang pembaca juga akan melakukan pembelajaran yang sama. Pembaca bisa tahu dan secara tak sadar akan menggumam pelan &#8220;Oooo buku ini begini&#8230;. begitu&#8221; setelah membaca karya resensi.</p>
<p>3. Mengetahui latarbelakang dan alasan buku tersebut diterbitkan. Sisi Undercovernya. Kalaupun tidak bisa mendapkan informasi yang demikian, peresensi tetap bisa mengacu pada halaman pengantar atau prolog yang terdapat dalam sebuah buku. Kalau tidak, informasi dari pemberitaan media tak jadi soal.</p>
<p>4. Mengetahui perbandingan buku yang telah dihasilkan penulis yang sama atau buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Peresensi yang punya &#8220;jam terbang&#8221; tinggi, biasanya tidak melulu mengulas isi buku apa adanya. Biasanya, mereka juga menghadirkan karya-karya sebelumnya yang telah ditulis oleh pengarang buku tersebut atau buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Hal ini tentu akan lebih memperkaya wawasan pembaca nantinya.</p>
<p>5. Bagi penulis buku yang diresensi, informasi atas buku yang diulas bisa sebagai masukan berharga bagi proses kreatif kepenulisan selanjutnya. Karena tak jarang peresensi memberikan kritik yang tajam baik itu dari segi cara dan gaya kepenulisan maupun isi dan substansi bukunya. Sedangkan, bagi penerbit bisa dijadikan wahana koreksi karena biasanya peresensi juga menyoroti soal font (jenis huruf) mutu cetakan dsb.</p>
<p>Nah, untuk bisa meresensi buku, sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan sebagian orang. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan siapa saja yang akan membuat resensi buku asalkan mereka mau. Diantaranya;</p>
<p>A. Tahap Persiapan</p>
<p>1. Memilih jenis buku. Tentu setiap orang mempunyai hobi dan minat tertentu pada sebuah buku. Pada proses pemilihan ini akan lebih baik kalau kita fokus untuk meresensi buku-buku tertentu yang menjadi minat atau sesuai dengan latarbelakang pendidikan kita. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa seseorang tidak mungkin menguasai berbagai macam bidang sekaligus. Ini terkait dengan &#8221; otoritas ilmiah&#8221;. Tidak berarti membatasi atau melarang-larang orang untuk meresensi buku. Tapi, hanya soal siapa berbicara apa. Seorang guru tentu lebih paham bagaimana cara mengajar siswa dibandingkan seorang tukang sayur.</p>
<p>2. Usahakan buku baru. Ini jika karya resensi akan dipublikasikan di media cetak. Buku-buku yang sudah lama tentu kecil kemungkinan akan termuat karena dinilai sudah basi dengan asumsi sudah banyak yang membacanya. Sehingga tidak mengundang rasa penasaran. Untuk buku-buku lama (yang diniatkan hanya sekedar untuk berbagi ilmu, bukan untuk mendapatkan honor) tetap bisa diresensi dan dipublikasikan misalnya lewat blog (jurnal personal).</p>
<p>3. Membuat anatomi buku. Yaitu informasi awal mengenai buku yang akan diresensi. Contoh formatnya sebagai berikut;</p>
<p>Judul Karya Resensi</p>
<p>Judul Buku :<br />
Penulis :<br />
Penerbit :<br />
Harga :<br />
Tebal :</p>
<p>B. Tahap Pengerjaan</p>
<p>1. Membaca dengan detail dan mencatat hal-hal penting. Ini yang membedakan antara pembaca biasa dan peresensi buku. Bagi pembaca biasa, membaca bisa sambil lalu dan boleh menghentikan kapan saja. Bagi seorang peresensi, mesti membaca buku sampai tuntas agar bisa mendapatkan informasi buku secara menyeluruh. Begitu juga mencatat kutipan dan pemikiran yang dirasa penting yang terdapat dalam buku tersebut.</p>
<p>2. Setelah membaca, mulai menuliskan karya resensi buku yang dimaksud. Dalam karya resensi tersebut, setidaknya mengandung beberapa hal;</p>
<ul class="unIndentedList">
<li> Informasi(anatomi) awal buku (seperti format diatas).</li>
<li> Tentukan judul yang menarik dan &#8220;provokatif&#8221;.</li>
<li> Membuat ulasan singkat buku. Ringkasan garis besar isi buku.</li>
</ul>
<p>• Memberikan penilaian buku. (substansi isinya maupun cover dan cetakan fisiknya) atau membandingkan dengan buku lain. Inilah sesungguhnya fungsi utama seorang peresensi yaitu sebagai kritikus sehingga bisa membantu publik menilai sebuah buku.</p>
<ul class="unIndentedList">
<li> Menonjolkan sisi yang beda atas buku yang diresensi dengan buku lainnya.</li>
<li> Mengulas manfaat buku tersebut bagi pembaca.</li>
</ul>
<p>• Mengkoreksi karya resensi. Editing kelengkapan karya, EYD dan sistematika jalan pikiran resensi yang telah dihasilkan. Yang terpenting tentu bukan isi buku itu apa, tapi apa sikap dan penilaian peresensi terhadap buku tersebut.</p>
<p>C. Tahap Publikasi</p>
<p>1. Karya disesuaikan dengan ruang media yang akan kita kirimi resensi. Setiap media berbeda-beda panjang dan pendeknya. Mengikuti syarat jumlah halaman dari media yang bersangkutan adalah sebuah langkah yang aman bagi peresensi.</p>
<p>2. Menyertakan cover halaman depan buku.</p>
<p>3. Mengirimkan karya sesuai dengan jenis buku-buku yang resensinya telah diterbitkan sebelumnya. Peresensi perlu menengok dan memahami buku jenis apa yang sering dimuat pada sebuah media tertentu. Hal ini untuk menghindari penolakan karya kita oleh redaktur.</p>
<p>Demikian ulasan sekilas mengenai teknik sederhana meresensi buku. Pada intinya, persoalan meresensi buku adalah soal berbagi (ilmu). Setelah membaca buku, biasanya kita bahagia karena memperoleh wawasan baru. Dengan begitu urusan meresensi buku juga bisa berarti kita berbagi kebahagiaan dengan orang lain. (yons achmad)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunikata.net/?feed=rss2&amp;p=181</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>10 Resep Jadi Penulis</title>
		<link>http://komunikata.net/?p=169</link>
		<comments>http://komunikata.net/?p=169#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 15:56:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yons Achmad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kiat Kepenulisan]]></category>

		<category><![CDATA[Tips Kepenulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komunikata.net/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[

10  Resep  Jadi Penulis
oleh
Yons Achmad
Anda ingin jadi penulis, gampang! Untuk menjadi seorang penulis masalahnya bukan kita bisa atau tidak bisa. Tapi kita mau atau tidak mau. Jika kita mau, pasti ada jalan untuk meraih predikat itu. Baiklah, dalam kesempatan ini, akan diketengahkan beberapa resep ringkas bagi mereka yang ingin terjun ke dalam dunia tulis menulis. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">10  Resep  Jadi Penulis</span></strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"><br />
oleh<br />
Yons Achmad</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 26.95pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">A</span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">nda ingin jadi penulis, gampang! Untuk menjadi seorang penulis masalahnya bukan kita bisa atau tidak bisa. Tapi kita mau atau tidak mau. Jika kita mau, pasti ada jalan untuk meraih predikat itu. Baiklah, dalam kesempatan ini, akan diketengahkan beberapa resep ringkas bagi mereka yang ingin terjun ke dalam dunia tulis menulis. Semoga membantu yah.<span id="more-169"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">1//<br />
Suka Membaca</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 26.95pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Membaca tentu bukan asal baca, apalagi membaca apa saja. Kita perlu menetapkan skala prioritas apa yang kita baca sesuai dengan kebutuhan kita. Misalkan Anda seorang muslim, dalam satu bulan minimal tiga jenis buku yang perlu dibaca. Buku tentang keagamaan, buku sesuai dengan latarbelakang pendidikan dan buku yang sesuai dengan minatnya. Dengan skala prioritas tersebut otak kita tidak dijejali beragam informasi yang justru membuat kita pusing, tapi informasi yang sesuai dengan kebutuhan kita sebagai seorang penulis nantinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; text-indent: 26.95pt; line-height: normal;" align="center"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">2//<br />
Suka Kliping</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 26.95pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Kliping tak hanya soal gunting menggunting koran. Jaman sekarang, kliping bisa berupa data digital. Yah, semua orang tahu, kita tinggal mengunduh materi-materi sesuai dengan kebutuhan kita melalui jejaring dunia maya. Ingat, jangan terjebak untuk mengoleksi banyak informasi yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Sekali lagi tetapkan prioritas untuk mengkoleksi informasi sebaga bahan mentah untuk karya yang akan kita buat kelak. Kliping gunanya hanyalah untuk menambah khasanah karya kita, yang paling penting tetap orisinalitas ide kita dalam sebuah karya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">3//<br />
Miliki Diary</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 26.95pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Diary (catatan harian) perlu dimiliki oleh (calon) penulis. Diary akan melatih orang untuk jujur pada diri sendiri. Menuliskan sepenggal goresan spontanitas apa yang dirasakan. Kelak menulis secara jujur akan sangat berguna bagi karier kepenulisan. Sebab, bisa mengantarkan penulis untuk menulis dengan hati. Yah, harapannya ketika orang menulis dengan hati, pesannya akan sampai ke hati juga. Mulia sekali bukan penulis yang seperti ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">4//<br />
Miliki Buku Sakti</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 26.95pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Berbeda dengan diary. Buku sakti adalah bank data. Berisi kutipan buku-buku yang pernah kita baca, hasil-hasil penelitian dan juga momen-momen penting yang terjadi di dunia. Untuk apa buku sakti ini perlu kita miliki? Yah, seperti papatah mengatakan <em>the palest ink is better than the best memory</em> (tinta yang kabur sekalipun masih lebih baik daripada ingatan yang tajam). Ketika kita ingin menulis sebuah karya, untuk memperkaya khasanah kita tinggal membuka bank data tersebut. Misalnya ketika akan menulis artikel berjudul “Televisi itu Candu”, untuk memperkayanya, kita tinggal membaca rangkuman dan kutipan buku terkait televisi yang pernah kita baca beserta hasil-hasil penelitian terkait dengannya. Adanya buku sakti ini sebenarnya adalah usaha sebuah manajemen karier kepenulisan agar lebih tertata dengan baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">5//<br />
Miliki Blog</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 26.95pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Blog ibarat tabungan karya. Memang lebih bagus kalau blog kita itu spesifik dalam arti wadah menuliskan hal-hal yang tidak beragam. Satu tema saja. Dengan begitu, ketika kita menuliskan karya dalam blog kita, sesungguhnya adalah sedang menabung. Kita menabung karya yang punya potensi kelak disulap menjadi sebuah buku. Selain itu, memiliki blog juga bisa sebagai ajang latihan kita dalam menuliskan karya. Disana tulisan kita akan mendapat respon dari pembaca. Dengan demikian menjadi sebuah pembelajaran dan masukan tersendiri agar kelak kita bisa berkarya lebih baik lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">6//<br />
Gabung Milis Kepenulisan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 26.95pt; line-height: normal;"><span style="color: #008000;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Milis adalah forun diskusi di dunia maya. Kita bisa mengikutinya, banyak sekali milis tentang dunia kepenulisan. Misalnya milis terbesar kepenulisan seperti </span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"><a href="mailto:penulislepas@yahoogroups.com"><span style="text-decoration: none;" lang="IN">penulislepas@yahoogroups.com</span></a></span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">, </span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"><a href="mailto:forum_lingkarpena@yahoogroups.com"><span style="text-decoration: none;" lang="IN">forum_lingkarpena@yahoogroups.com</span></a></span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">, </span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"><a href="mailto:apresiasi-sastra@yahoogroups.com"><span style="text-decoration: none;" lang="IN">apresiasi-sastra@yahoogroups.com</span></a></span></span><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: black;" lang="IN"><span style="color: #008000;"> dsb. Dengan bergabung dengan milis kepenulisan, kita bisa mendapat banyak informasi yang mendukung karier sebagai penulis seperti kiat-kiat kepenulisan, bedah karya maupun beragam informasi lomba kepenulisan di mana kita juga bisa berkiprah di dalamnya</span>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">7//</span></strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"><br />
</span><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Kunjungi Perpustakaan dan Toko Buku</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 26.95pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Kemana orang berlibur? Bisa ke pantai, mall, tempat-tempat wisata dsb. Tapi bagi orang yang ngebet pingin jadi penulis, liburan bisa digunakan untuk mengunjungi perpustakaan. Disana kita bisa refresing sekaligus menambah wawasan bagi otak kita. Ke toko buku juga perlu, selain kita bisa membaca sekilas buku-buku yang ada. Kita juga bisa mendapatkan inspirasi judul-judul buku yang laris manis di pasaran. Selanjutnya, kita berharap bisa memunculkan karya atau buku-buku yang digemari masyarakat pula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">8//<br />
Datangi Acara Kepenulisan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 26.95pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Penting sekali yang ini. Dengan mendatangi acara kepenulisan, terutama acara bedah buku, kita akan banyak mendapatkan ilmu. Biasanya adalah ilmu tentang proses kreatif sang pengarang buku. Bagaimana lika-likunya, mulai dari mendapatkan inspirasi, proses penulisan, mencari penerbit, sampai menyaksikan bukunya bisa dibaca orang lain dan barangkali bisa <em>best seller</em>, dicetak berulang-ulang. Dengan mengetahui cerita tersebut, kita juga bisa melakukan hal yang sama. Menjadi penulis “hebat”. Tentu dengan cara yang berbeda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">9//<br />
Ikuti Komunitas Kepenulisan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 26.95pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Ikut komunitas kepenulisan itu perlu. Dengan mengikuti komunitas kepenulisan kita bisa berbagi pengalaman dalam berkarya. Begitu juga bisa saling memberikan kritikan dan masukan pada karya yang dibuat anggota. Dengan begitu akan matang sebelum karya benar-benar dikirimkan ke berbagai media maupun penerbit. Dengan ikut komunitas pula akan memberikan semangat kepada kita untuk berkarya. Biasanya kita akan terpacu dan bersemangat berkarya ketika ada salah satu anggota yang karyanya bisa tembus ke media massa maupun bukunya diterbitkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">10//<br />
Angkat Mentor Inspiratif</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 26.95pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Siapa mentor inspiratif itu? Dia adalah penulis favorit kita. Kita perlu mengangkat mentor walaupun tanpa kontak dengannya. Cukup kita mengakrabi karya-karyanya. Mentor ini gunanya dalam soal gaya menulis maupun bercerita. Bukan hal yang haram ketika kita mengikuti gaya menulis seseorang. Yang penting kita tetap punya ide orisinil tersendiri. Adanya mentor yang kita angkat sendiri ini akan membantu kita. Misalnya, akan menulis novel inspiratif, kita perlu mengangkat Paulo Choelo sebagai mentor. Ini sekedar contoh saja. Jadi karya kita nantinya berbau karya dia dalam soal gaya kepenulisan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; text-indent: 26.95pt; line-height: normal;" align="center"><em><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Baik, sementara ini dulu yah,<br />
abaikan saja ke sepuluh resep diatas<br />
kalau hanya bikin pusing dan menganggu pikiran.<br />
Sekarang duduk dan menulislah, itu saja.<br />
Selamat berkarya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komunikata.net/?feed=rss2&amp;p=169</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
